Dumai Pos
Banner Anda
468 x 60 pixel
 
 
   
24 Mai 2013 - 11.04 WIB
 
» BERITA FOTO
 
 
 
 
 
  BERITA
 
Kegalauan Gubernur Riau, HM Rusli Zainal Menjelang PON XVIII 2012 (1)
Memompa ‘Bola Semangat’ Sedang Gembos
21 Juni 2012 - 07.16 WIB
142 klik
 
Tak seperti biasa, wajah HM Rusli Zainal tampak lelah. Kacamata berbingkai tebal yang menghiasi wajahnya tidak cukup untuk menutupi kantung di bawah mata. Saat bicara soal persiapan PON XVIII, gubernur Riau yang pintar mengaji ini lebih banyak menggeleng-gelengkan kepala. Ada apa Pak Gub? “SAYA betul-betul malu jika mengecewakan bangsa ini! Saya yang ngotot PON XVIII digelar di Riau, dengan konsep yang spektakuler. Lebih hebat dari SEA Games Palembang! Satu level saja, saya tidak mau! Itu semangat saya sejak 2007. Tapi saat ini, ambisi itu seperti layu sebelum berkembang! Gembos, bahkan persiapan yang sudah berapi-api sejak dulu, sekarang seperti antiklimaks,” aku Rusli Zainal lesu.

Mengapa ? Apakah ini imbas dari persoalan suap atau tuduhan korupsi yang seolah-olah dialamatkan kepadanya ? “Kalau soal itu, saya malah tidak memikirkan. Karena saya optimis saya bekerja sesuai dengan aturan yang ada,”lanjut Rusli, Minggu (17/6) lalu di lantai 9 Kantor Gubernur di Pekanbaru.
Lalu apa gerangan? Apalagi kalau bukan persoalan persiapan PON XVIII yang bakal dihelat September 2012 itu? Persiapan yang sudah dia lakukan semenjak tahun 2007 silam itu tiba-tiba terhenti. Menyusul kasus dugaan suap yang melibatkan bawahan, dan anggota DPRD yang tertangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Rusli mengakui, peristiwa itu bak petir menyambar di siang bolong. Nyaris melumpuhkan semua lini yang sudah ia bangun semenjak lima silam. Gemerlap dan semangat perhelatan olah raga nasional itu, tiba-tiba redup tanpa kepastian.
“Sungguh ironis, investasi yang sudah dilakukan pemerintah provinsi yang mencapai ratusan miliar seperti tidak ada artinya lagi. Usaha kami membangun berbagai sarana, dengan cara mencicil selama ini, seperti harus berhenti mendadak tanpa masa depan,”keluh Rusli seperti menyesali apa yang terjadi.
Sebagai orang nomor satu di Provinsi Lancang Kuning, Rusli memang pantas gusar. Betapa tidak. Usaha kerasnya untuk menjadi tuan rumah yang terbaik dalam pesta olahraga nasional justru berbalik menjadi kekhawatiran. Diundur, atau bahkan gagal. Itu yang membuatnya gusar.
Sementara, waktu yang tersisa untuk menyelesaikan semua persiapan semakin terjepit, tinggal 80-an hari lagi. Beberapa sarana bahkan belum dilakukan tender, karena masih menunggu pembahasan APBD perubahan, yang sampai sekarang sama sekali belum juga dibahas oleh DPRD. Total anggaran untuk penyelenggaraan PON ini sebesar Rp1,6 triliun.
“Sampai sekarang belum ada kemajuan berarti, dan kami sudah mencoba untuk mengajukan anggaran perubahan ke DPRD tetapi selama sebulan ini belum dibahas,”kata Rusli.
Ia menuturkan, sejak ditunjuk tahun 2007 untuk menjadi tuan rumah PON XVIII segala persiapan telah dilakukan dengan cara mencicil. Dari 54 venus yang disiapkan, progresnya memang sudah mencapai 90 persen. Tetapi, 10 persen sisanya masih di awang-awang.
Sebagian masih tersendat dan sebagian lagi sama sekali tidak berjalan karena pembangunannya sangat bergantung pada anggaran perubahan tersebut. Fasilitas yang terbengkalai di antaranya venus menembak dan VIP room.
Kalaupun seandainya anggaran perubahan tersebut diputuskan hari ini, proses tendernya baru mulai dilakukan pada 12 Agustus. Jika menghitung hari libur dan hari raya, maka diperkirakan waktu efektif hanya dua bulan. Sementara waktu penyelenggaraan PON adalah 9 September sampai 20 September.
“Bisa dibayangkan bagaimana proses tender dengan waktu yang relatif singkat itu, kami khawatirkan venus yang kami bangun tidak fungsional. Sementara sampai sekarang belum ada satupun sponsorship yang sudah pasti dan event organizer yang kami dapatkan, karena semua masih wait and see,”ucapnya.
Berbagai upaya untuk mencari alternatif solusi dan opsi-opsi agar PON bisa berjalan tepat waktu memang terus dicari. Terutama untuk pembangunan venus yang kini terhenti. “Dan ini sudah kita bahas dengan Bapak Presiden SBY,”Rusli menambahkan.
Salah satu opsi adalah mengefesienkan gedung-gedung yang telah dipersiapkan. Di samping juga menyusun skala prioritas agar penyelenggaraan PON tepat waktu. Yang muncul, adalah PON minimalis. Tetapi, minimalis seperti apa sampai sekarang kami juga belum menemukan formulasinya.
Selain anggaran sebagai kendala utama, Rusli juga mengakui secara psikologi unsur pemda yang terlibat dalam PON ini masih diselimuti rasa takut dan ragu-ragu. Menurutnya, ada beberapa anggotanya yang memilih mundur karena trauma.
Biasanya atas desakan keluarga, istri atau anak-anaknya mereka meminta mundur dan memilih menjadi pegawai biasa-biasa saja.
Berbagai upaya dilakukan Rusli untuk memompa spirit demi menyukseskan PON tahun ini. Ibarat bola yang sudah terlanjur gembos, memompa semangat itu luar biasa rumit. “Kami memang seperti sudah dihakimi. Terutama oleh media, yang seakan terus menebar teror,”ujarnya.
Teror penyadapan telepon diakui Rusli sebagai momok yang menakutkan. Apalagi, dalam percakapan telpon tidak jarang terjadi percakapan sepotong-sepotong, karena sifatnya lebih banyak hanya konfirmasi atau mengingatkan.
Misalnya, dalam percakapan telepon saya mengatakan, itu perdanya kok tidak segera diteken-teken. Segeralah kita bereskan. Percakapan seperti ini kan bisa diartikan macam-macam yang negatif. Percakapan-percakapan singkat dalam telepon seperti itu kan biasa. Tetapi, kalau disadap kan bisa diartikan macam-macam.
Sebenarnya Rusli tidak sendirian dalam upaya mengembalikan spirit menyukseskan penyelanggaraan PON di Riau. Tak kurang Ketua Komite Olahraga Nasional (KONI) Tono Suratman juga memastikan bahwa persiapan Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII/2012 di
Riau sudah cukup memuaskan. “Dari hasil kunjungan dan laporan Pak Gubernur Riau H.M Rusli Zainal hari ini, kesiapan Riau sebagai tuan rumah PON sudah cukup memuaskan. Tinggal bagimana kesigapan Pemerintah Pusat saja,” kata Tono beberapa waktu silam.
Tono menjelaskan, dirinya bersama rombongan sudah sengaja hadir ke Ibu Kota Provinsi Riau, Pekanbaru, untuk mengetahui sejauh mana kesiapan PON termasuk berbagai proyek penunjangnya. “Intinya adalah, saya hadir di sini sebagai Ketua KONI dan tim pengawas. Kehadiran saya waktu itu, juga sangat dibutuhkan oleh Pak Gubernur Riau untuk menghindari berbagai isu tak sedap yang selama ini mengarah ke persiapan PON,” katanya.
Tono meminta keseriusan pemerintah pusat lebih menseriusi terselenggaranya PON ke XVIII yang semakin mepet. Karena ini adalah even nasional, even yang diikuti 33 provinsi. Ia menilai persiapan daerah untuk menyukseskan PON sudah cukup matang. “Tinggal lagi kesiapan dan dukungan Pemerintah Pusat. Pemerintah Pusat diharapkan lebih siap dan lebih serius lagi untuk menyukseskan PON Riau,” katanya. (bersambung/aj/dk)
 
 
Banner Anda
415 x 60 pixels
 
  Riau  
Supir Hadang Puluhan Truk BBM
Tembak Pencuri, Eh.. Kena Bocah
2 Karyawan PT Palma Dua Dibunuh
Suami Tikam Istri 12 Liang
Izinkanlah Aku Bersamanya....
Baru Kenal Siswi SMA Digarap Pacar
 
 
 
  Analisa
 
 
DALAM beberapa bulan terakhir ini, publik dikagetk...
 
 
Prof Dr HK Suheimi SpOG
Maag dan Puasa
 
‘MAAG saya kambuh’ kata pasien saya mengeluh sambi...
 
 
Muhammad Ikhsan
Pola Hidup Sederhana
 
DI beberapa stasiun televisi swasta di Tanah Air b...
 
 
 
  Kiprah
 
 
Harianja Harapkan Dumai Pos Semakin Jaya
 
Dumai Pos A Juara, Dumai Pos B Uritan ke III
 
 
  Berita Lainnya
 
22 Mai 2013 - 10.22 WIB
22 Mai 2013 - 10.20 WIB
22 Mai 2013 - 10.17 WIB
22 Mai 2013 - 10.15 WIB
22 Mai 2013 - 10.10 WIB
 
  Berita Populer