Dumai Pos
Banner Anda
468 x 60 pixel
 
 
   
25 Mai 2013 - 18.41 WIB
 
» BERITA FOTO
 
 
 
 
 
  Analisa
    
Membangun Generasi Ulul Albab
04 May 2012 - 07:56 WIB
 
DALAM Al Quran, ulul albab adalah seseorang dengan kualitas tertentu. Kata al-bab, merupakan kata jamak dari al-lub, yang artinya otak, pikiran, intelek. Jadi seorang ulul al-bab adalah seorang yang memiliki pemikiran yang lebih dari orang lain, baik karena kecerdasan maupun intensitasnya. Dengan perkataan lain, ulul al-bab adalah seorang pemikir, cendekiawan, cerdik-cendekia, atau seorang filosof yang berfikir mendalam.
Jalaluddin Rakhmat mengatakan bahwa ada perbedaan yang sangat signifikan antara seoaran intelektual dengan ulul albab. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari Al Quran yang terjemahannya berikut ini:
“(Apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS Az-Zumar (39); 9)
Dengan merujuk firman Allah di atas, tanda khas yang membedakan ulul albab dengan ilmuan atau intelektual lainnya adalah, seorang ulul albab rajin bangun tengah malam untuk rukuk dan bersujud dihadapan Allah. Dengan demikian, ulul albab adalah sama dengan intelektual plus ketakwaan, intelektual plus kesalehan. Dalam diri ulul albab berpadu sifat-sifat ilmuan, sifat-sifat intelektual, dan sifat orang yang dekat dengan Allah SWT.
Dalam Al Quran kata ulul albab, disebutkan sebanyak 16 kali yang tersebar dalam 10 surat, yang menurut pengarang kamus, A Concordance of the Quran, Hanna E. Kassis, kata ini dapat mempunyai beberapa arti:
1. Orang yang mempunyai pemikiran (mind) yang luas atau mendalam,
2. Orang yang mempunyai perasaan (heart) yang peka, sensitif atau yang paling halus perasaannya,
3. Orang yang mempunyai daya pikir (intellect) yang tajam atau kuat,
4. Orang yang memiliki pandangan dalam atau wawasan (insight) yang luas, dan mendalam,
5. Orang yang memiliki pengertian (understanding), yang akurat, tepat atau luas, dan
6. Orang yang memiliki kebijakan (wisdom), yakni mampu mendekati kebenaran, dengan pertimbangan-pertimbangan yang terbuka dan adil.
Adalah tugas intelektual muslim (ulul al-bab) memikirkan gagasan-gagasan abstrak dan sekaligus persoalan-persoalan nyata dan spesifik. Mereka selalu melibatkan diri dengan persoalan-persoalan yang dihadapi umat dan berusaha melakukan transformasi pengetahuan yang mereka miliki.
Dinyatakan oleh Syafii Maarif bahwa tantangan moral dan intelektual umat Islam sekarang cukup ruwet, karena itu kita harus serius memikirkannya. Dunia Islam telah dikoyak-koyak oleh materialisme hedonis dan materialisme ateistik, yang tentu saja memerlukan reorientasi moral yang segar, holistik dan melegakan.
Dikemukakan oleh Ziauddin Sardar bahwa umat Islam sekarang tampak sedang menghadapi masalah yang lebih pelik dibandingkan dengan generasi awal muslim, termasuk ketergantungan, parokialisme, fatalisme dan bencana ekonomi serta lingkungan.
Sejalan dengan Ziauddin Sardar, Seyyed Hossein secara rinci mengemukakan tantangan yang dihadapi oleh Dunia Islam pada abad ke-21 yaitu (1) krisis lingkungan; (2) tatanan global; (3) post modernisme; (4) sekularisasi kehidupan; (5) krisis ilmu pengetahuan dan teknologi; (6) penetrasi nilai-nilai non islam; (7) citra Islam; (8) sikap terhadap peradaban lain; (9) feminisme; (10) hak asasi manusia; dan (11) tantangan internal.
Apa yang dikemukakan oleh Sardar dan Nasr di atas tentu saja menutut umat untuk mencari solusi pemecahan terhadap masalah-masalah yang melilit umat Islam tersebut. Dan tentu saja keterlibatan para intelektual muslim (ulul al-bab) menjadi sangat penting dan urgen.
Karena itu, seperti dikatakan Ziauddin Sardar lebih lanjut, bahwa masa depan Islam secara tidak langsung akan ditentukan oleh kemampuan umat islam dalam menyediakan jenis pendidikan bagi generasi mudanya agar dapar melahirkan intelektual muslim yang tangguh dan mumpuni. Dengan demikian, kebangkitan dan renaisance intelektual muslim merupakan esensi dan tujuan pendidikan tinggi Islam.
Dikemukakan oleh Syafii Maarif, bahwa tugas utama lembaga-lembaga pendidikan Islam adalah menciptakan kondisi dan lingkungan pendidikan yang anggun, hingga cukup memberikan kemungkinan bagi lahirnya cendekia-cendekia yang berwawasan luas di samping punya tilikan pandangan yang tajam dalam membaca peta bumi kemanusiaan.
Sekiranya kelompok ulul albab telah cukup memadai dapat dilahirkan dari lembaga pendidikan Islam, maka dengan sendirinya kita akan punya wibawa secara intelektual dan moral untuk berbicara tentang masalah-masalah besar yang dihadapi umat manusia, dan dunia akan mendengarkan dan menyimaknya.Berdasarkan pemikiran-pemikiran yang tertuang di atas, tampaknya membangun atau mewujudkan generasi ulul albab (intelektual muslim) menjadi kebutuhan yang mendesak dan urgen. Karena itu, adalah tugas pendidikan Islam untuk merealisasikannya. Akan tetapi, sepanjang yang penulis ketahui dari berbagai literatur kependidikan Islam, tampaknya konsep ulul al-bab belum mendapatkan perhatian yang serius bagi para pemikir dan praktisi pendidikan Islam. Padahal konsep ulul albab, menurut hemat penulis, termasuk tema penting yang diusung al-Quran dan secara realitas keberadaannya sangat dibutuhkan untuk membangun umat Islam dan masa depan Islam menjadi lebih baik .

*Penulis Mubaligh PMD Kota Dumai
 
 
  Analisa
 
 
DALAM beberapa bulan terakhir ini, publik dikagetk...
 
 
Prof Dr HK Suheimi SpOG
Maag dan Puasa
 
‘MAAG saya kambuh’ kata pasien saya mengeluh sambi...
 
 
Muhammad Ikhsan
Pola Hidup Sederhana
 
DI beberapa stasiun televisi swasta di Tanah Air b...
 
 
 
  Kiprah
 
 
Harianja Harapkan Dumai Pos Semakin Jaya
 
Dumai Pos A Juara, Dumai Pos B Uritan ke III
 
 
  Berita Lainnya
 
22 Mai 2013 - 10.22 WIB
22 Mai 2013 - 10.20 WIB
22 Mai 2013 - 10.17 WIB
22 Mai 2013 - 10.15 WIB
22 Mai 2013 - 10.10 WIB
 
  Berita Populer